Ceramah Habib Ali Al-Jufri

Rasul bersabda إنما بعثت معلما (saya hanyalah diutus sebagai seorang pendidik).  Allah menjadikan kedudukan pendidikan berada pada posisi termulia.  Secara lahir pendidikan mungkin hanya dilihat sebagai proses untuk memperoleh ilmu, keterampilan,  dan ijazah saja.  Sejatinya pendidikan memiliki hakekat,  yaitu spirit dan karakter yang dibentuk oleh proses pembelajaran yang benar.  Dosen dan guru sebagai pendidik tidak hanya dituntut untuk melakukan proses transfer pengetahuan saja,  namun iapun dituntut untuk membangun karakter manusia yang unggul.

Hakekat pendidikan tersebut terkait dengan 3 hal. Yang pertama adalah niyat dan maqsud dari pendidik. Apabila tujuan dan maksud menjalankan pendidikan hanya sekedar berkutat pada proses apalagi dilandasi oleh tujuan-tujuan yang bersifat duniawi,  maka pendidik tersebut tidak akan bisa mencapai hakekat pendidikan. Hakekat pendidikan hanya akan dapat diperoleh manakala seorang pendidik menyadari bahwa dalam menjalankan proses pendidikan ia hanyalah menjadi wakil (representasi) Nabi. Kesadaran bahwa sebagai pendidik,  ia hanya menjalankan amanat dan warisan kenabian,  membuat semua ucapan,  prilaku,  bahkan ungkapan emosinya dapat terkontrol dan dijiwai oleh petunjuk nabi. Ia tidak akan merasa bisa berbuat semena-mena dan tidak akan mudah frustasi dengan keadaan,  karena ia menyadari bahwa Nabi bersamanya.

Para pendidik dewasa ini sering merasa teralineasi karena berbagai tekanan,  baik dari lingkungan sosial,  kerja, atau dari tingkah polah siswanya. Namun manakala kita menyadari bahwa Allah selalu hadir dan nemperhatikan berbagai krisis dan tekanan yang kita hadapi,  ketika itu kita akan merasakan ketenangan dan kenyamanan. Ketika sebagai pendidika kita dapat mengubah berbagai energi negatif menjadi positif, ketika itu kita dikatakan telah dapat mengubah pendidikan dari sekedar deskripsi (citra) menjadi hakekat.

Pendidik yang mampu memelihara keterhubungan dengan Nabi,  akan dapat menebarkan kedamaian dan kenyamanan untuk lingkungan sekitarnya. Ia akan mengubah tantangan menjadi peluang,  tekanan menjadi motivasi,  dan menjadikan kemarahan sebagai kelembutan.  Ketika pendidik telah mampu merasakan kemuliaan maqam representasi kenabian,  maka ia akan mampu membangun relasi yang harmonis dengan siapapun. Ia akan menyikapi keburukan dengan kebaikan.

Poin yang kedua adalah memahami problematika yang dihadapi oleh siswa. Problematika yang dihadapi oleh murid atau mahasiswa di zaman sekarang tentunya berbeda dengan yang dihadapi orangtua-orangtua mereka di masa sebelumnya. Terdapat perbedaan etika bahkan perbedaan tantangan kehidupan: pemikiran,  politik,  ekonomi, budaya,  dan lain-lain. Dalam kajian keislamanpun tidak tertutup kemungkinan adamya kebutuhan untuk pembaharuan.tuntutan pembaharuan pembahasan keislaman juga sering diwacanakan oleh para mahasiswa.  Kita harus mengakomodir tuntutan tersebut karena memang ada wilayah-wilayah tertentu yang bisa diperbaharui,  namun kita juga harus memberikan kontrol agar wacana tersebut tidak sampai merusak dasar-dasar syariat.

Pembaharyan kajian keislaman sudah banyak dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu,  dan merambah ke seluruh aspek kajian keislaman,  termasuk ilmu kalam.  Abu hasan al asyari misalnya memperkenalkan pendekatan rasional tekstualis sebagai respon dari kemandekan konsep akidah ahlusunnah dan adanya hantaman keras raionalisme mu’tazilah.  Imam ghazali juga memperkenalkan pembacaan filosofis terhadap pembahasan-pembahasan ilmu kalam. Umat islam merupakan umat yang selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan zaman,  dengan melakukan pembaharuan dan pengembangan kajian-kajian keilmuan,  termasuk di dalamnya masalah tauhid.  Pembaharuan tersebut merupakan pengembangan terhadap teori-teori dan kajian-kajian yang sudah dilakukan ulama-ulama terdahulu dalam upaya untuk menjawab tantangan modernisasi,  dan merespon perkembangan keilmuan modern yang bertentangan dengan nilai-nilai asasi Islam.

Poin ketiga,  sebagai pendidik kita hendaknya menyadari bahwa dunia modern telah mengubah manusia menjadi budak-budak industri dan teknologi. Manusia modern sering mengira bahwa mereka adalah makhluk bebas,  namun realitanya mereka diperbudak oleh media sosial,  oleh sistem industri modern.  Bahkan universitas-universitas saat ini tak ubahnya seperti pabrik yang hamya menciptakan komponen-komponen penggerak mesin belaka. Dosen dituntut untuk dapat memberikan energi ruhani dalam proses pendidikan,  sehingga pendidikan menjadi semacam wasilah yang bisa menghantarkan siswa dan mahasiswa untuk dapat menginternalisasikan akhlak nabi dalam hidupnya. Manakala akhlak kenabian telah termanifestasi dalam diri siswa,  maka mereka akan mampu bekerja jujur,  profesional,  ikhlas,  dan komitmen untuk memberikan kebaikan dan kemaslahatan bagi kemanusiaan.

Dari uraian di atas,  maka peran utama para pendidik adalah untuk merenovasi kemanusiaan siswa. Kemanusiaan merupakan titik awal menuju pada keberagamaan.  Keberagamaan (tadayun)  adalah pemaknaan manusia terhadap agama (din).  Kemanusiaan adalah wadah untuk menuangkan cahaya agama (nur addin), seandainya kemanusiaan baik maka keberagamaannya oun baik,  begitu pula sebaliknya. Setiap bentuk penyimpangan pemaknaan agama disebabkan oleg kemanusiaan yang rusak. Atas dasar itu agar tercipta keberagamaan yang benar diperlukan renovasi aspek kemanusiaan terlebih dahulu. Agar kita mampu merenivasi kemanusiaan siswa/mahasiswa maka,  sebagai dosen kita dituntut untuk membangun relasi yang baik dengan mereka.  Kembangkan komunikasi yang baik,  berinteraksilah dengan mahasiswa dengan menggunakan empati sehingga potensi kemanusiaan yang ada dalam diri mereka dapat dengan mudah kita gerakkan menjadi baik. Wallahu a’lam

Diresume oleh Andy Hadiyanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s